Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Kamis, 09 Juli 2015

Etika Menerima Dan Menyebar Berita Bagi Seorang Muslim bag. 1

Oleh : Kustian Nugraha  (Ilkom Jurnalistik UIN Bandung 2012)

Etika Menerima Dan Menyebar Berita

Yang menjadi latar belakang artikel ini saya tulis adalah, keprihatinan atas kebiasaan menyebar kabar-kabar yang masih simpang siur, dugaan atau bahkan fitnah oleh beberapa kalangan, bahkan ironisnya kaum muslimin pun ikut-ikutan kebiasaan menyebar kabar ini. 

Belakangan ini tersiar beberapa informasi yang membuat dahi saya mengkerut, salah-satunya datang dari tempat tinggal saya sendiri. Kabar tersebut beredar lewat bbm, whatsup bahkan sms yang akhirnya menjadi trend di keluarga kami dengan budaya sebar secara masif. 


Isi kabar tersebut menyatakan salah satu ulama di dago yang kami kenal, menganut ajaran ini dan itu. Tentu sikap awal kami adalah tidak langsung percaya akan kebenaran kabar tersebut.   Akhirnya setelah saya sendiri datang ke pesantrennya dan mengklarifikasi langsung kepada sang ulama tentang kabar yang banyak beredar, ternyata kabar tersebut tidak lah benar sama sekali. 

***

Budaya main share ini bukanlah karena tombol share begitu besar di layar komputer anda atau tombol share gadget yang melayang-layang di layar kaca anda. 

Pastinya perilaku sebagian kaum Muslim ini adalah bentuk kewaspada terhadap ancaman atau hal apapun berupa informasi yang membahayakan kaum Muslim supaya bisa dicegah sejak dini. apalagi kalau kabar yang diterima dianggap sangat penting untuk disebarluasakan, contohnya permasalah mengenai aqidah, peristiwa kecelakaan, bencana dan lain sebagainya.
Yang jadi masalah adalah tanpa keraguan sedikitpun dengan kabar yang beredar, kita langsung menyebarkan kabar yang baru saja kita tahu tanpa menelusuri dari mana atau benarkah kabar beredar itu.

Kebiasaan itu yang sekarang menjamur ibarat jamur di musim hujan. Seolah-olah berita yang datang ke telinga kita adalah suatu informasi yang sah, dan absolute sesuai tagline salah satu saluran tv nasional: tajam, aktual dan terpercaya.

 Sama halnya di bbm atau whatsup, di media online pun kepercayaan kaum Muslim seakan mengiakan saja suatu berita dengan melihat sumber mana yang memberitakan, jika media online  berdomain .com; .net; .org atau co.id, maka persepsi atau pandangan yang didahulukan pastilah media tersebut terjamin dan bebas dari kabar bohong, otomatis kaum Muslimin langsung main sebar.  

***

Pasca Reformasi, Indonesia yang saat ini menerapkan sistem kebebasan pers memang membuka semua bentuk pintu informasi dari mana saja dan boleh menyebarkannya dengan satu syarat, yaitu sesuai dengan kaidah kode etik pers maupun kejurnalistikan. 

Jadi Pemberitaan sebuah berita sebetulnya telah diatur dalam kode etik jurnalistik, salah satunya pasal 8 menyebutkan,
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani. 1

Bahkan untuk berita persidangan di pengadilan, seorang wartawan harus mewartakan dengan tetap berasas pada asas praduga tak bersalah, selama keputusan atau vonis pengadilan belum dijatuhkan. 

Dengan aturan yang sudah ada sebagai pembanding sebuah media dengan media yang lain.  Maka jelaslah, mana media yang benar-benar dan yang abal-abal.  Media berita abal-abal akan kelihatan betapa kepentingan disitu menjadi motor penggerak.

Sudah seharusnya para pemilik portal media lebih berhati-hati dengan berita yang mereka wartakan. Berita yang simpang siur, dugaan dan belum pasti haruslah disimpan terlebih dahulu sebelum adanya uapaya klarifikasi dan kejelasan. Jelas kita sebagai pewarta atau pengedar punya aturan main dalam pewartaan di negara kita ini. 

Saya juga sebagai pemakai informasi menghimbau kepada pemakai lain agar menghadirkan pembanding dalam mencerna informasi yang beredar. Jangan menerima informasi dari satu sumber saja, hadirkan sumber lain agar tidak pincang dalam mengedarkan berita. 


Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel