Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Kamis, 09 Juli 2015

Etika Menerima Dan Menyebar Berita Bagi Seorang Muslim bag. 2



Lanjutan Dari Artikel Bagian Pertama :


Begitu juga Islam yang mengatur segala aspek kehidupan, masalah menerima berita dan menyebarkannya sudah tertata rapih. Namun begitu disayangkan berapa banyak kaum muslim tidak menyadari hal yang sangat penting berkenaan permasalahan berita.  Apalagi seorang aktivis dakwah, pastinya tahu betul konsep tabayun dalam sebuah lingkarannya. 

Begitu banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari tauladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. 

Dan Al-Quran merekam hal yang penting berkenaan masalah menerima dan menyebarkan berita, diantaranya kisah yang mengandung etika penerimaan berita, salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Kisah salah satu utusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu Al-Walid bin Uqubah yang diutus Rasul untuk mengambil zakat kepada suku Bani Musththaliq yang dipimpin Al-Harits bin Dhirar.  Al-Walid saat itu menyebarkan kabar yang meragukan kepada Rasulullah,  bahwa suku yang dipimpin Al-Harits enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya.  Padahal Al-Walid tidak pernah sampai ke perkampungan Bani musththaliq. 

Sikap Rasul yang saat itu mendengar kabar dari Al-Walid tidak langsung mengobarkan perang kepada Bani Musththaliq yang tidak mau membayar zakat. Justru Rasul mengutus Khalid sebagai utusan lain untuk mengklarifikasi kebenaran kabar yang dibawa Al-Walid, apakah benar Al-Harits enggan membayar zakat.

Setelah Khalid bertemu Al-Harits dan mengklarifikasi kabar yang beredar, ternyata kabar yang di bawa Al-Walid tidaklah benar. Justru Al-Harits sebenarnya pergi bersama rombongannya untuk pergi membayar zakat bukan berniat membunuh Al-Walid.

Maka turunlah surat Al-Hujurat ayat 6 yang memberikan peringatan kepada kaum muslim sekaligus membenarkan kejadian yang menimpa Al-Harits. 

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6)

Jika saja Rasul saat itu langsung mempercayai kabar yang datang dari Al-Walid maka akan terjadi pertumpahan darah di dalam kaum muslim pada saat itu. Dan hal ini merupakan pelajaran berharga bagi kita umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam agar mau membudayakan ber-Tabayun, Kroscek maupun Klarifikasi tentang suatu kabar yang beredar.

Kisah lainnya tentang berita bohong dalam kitab Sirah Nabawiyah, menimpa istri baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu Aisyah. Karena ketertinggalannya di suatu tempat untuk mengambil kalung milik saudaranya yang tertinggal, ia memisahkan diri dari rombongan.

Setelah tertinggal jauh dari rombongan ia akhirnya melanjutkan perjalanannya yang dipandu oleh Shafwan bin Al-Mu’aththal yang menemukan Aisyah sendirian di tempatnya. Akhirnya Shafwan bin Al-Mu’aththal bisa menyusul rombongan yang saat itu sedang singgah di Nahruzh Zhahirah. Saat melihat kedatangan Shafwan bersama Aisyah, orang-orang berbicara kasak kusuk dengan versinya masing masing.

Kabar tersebut akhirnya diketahui oleh seorang munafik Abdullah bin Ubay, melaluinyalah kasak kusuk tersebut semakin diperparah.

Ketika sampai pada Rasulullah kabar mengenai Aisyah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diam dan tidak menaggapinya. Karena cukup lama tidak ada wahyu yang turun, belliau meminta pendapat para sahabat. Sehingga Ali bin Abu Thalib mengisyaratkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menceraikan Aisyah.

Tapi apa yang dilakukan Ali hanyalah sebatas memberikan isyarat dengan tidak meminta dengan jelas untuk menceraikan Aisyah. Sementara Usamah dan lain-lainnya mengisyaratkan beliau untuk tidak menceraikannya, dan tidak perlu menaggapi perkataan musuh musuh islam.

Sampai akhirnya Aisyah tidak terbukti melakukan perbuatan keji. Maka turunlah Wahyu dari Allah atas peristiwa ini.  (Q.S An-Nur ayat 11 dan juga sembilan ayat berikutnya)

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.”...

***

Sekali lagi marilah kita mengambil pelajaran dari beberapa kisah di atas. Tentunya masih banyak lagi kisah yang patut kita teladani , terutama bagaimana kebijaksanaan Rasulallah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengklarifikasi berita yang beliau terima.

Umat Islam harus waspada akan kabar dan berita bohong yang beredar luas, apalagi setelah teknologi memungkinkan kita mengakses informasi dengan jempol dan jari jemari kita di mana dan kapan saja.  

Upaya memecah belah umat Islam, Lewat kabar bohong ternyata sudah terjadi di jaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri oleh orang-orang munafik.

Di jaman kerajaan Indonesia apa yang dilakukan belanda dalam menghancurkan kerajaan-kerajaan di indonesia adalah melalui kabar bohong atau hasutan politik adu domba (Devide Et Impera) agar kerajaan di indonesia saat itu saling berperang.

Nah bagaimana dengan jaman kita sekarang. Berita bohong, fitnah dan dugaan dari seseorang , kelompok, atau ormas sekarang bak tokoh antagonis yang memfitnah tokoh utama sebuah tayangan telenovela, marak dan terjadi di seluruh penjuru dunia. Salah satu promotornya adalah media massa, mereka lah yang membentuk opini publik saat ini.

Media massa dalam membentuk opini publik juga memakai teori Joseph Goebbels,  ia adalah menteri propaganda Nazi saat itu, prinsipnya adalah, Menyebarluaskaan berita bohong melalui media massa sebanyak dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Benar benar sederhana namun mematikan.   

Oleh sebab itulah kita musti berhati hati dalam menerima informasi dari media manapun. Bukan apa-apa,  tapi melihat kondisi media di Indonesia atau Dunia saat ini, bisa dibilang makin ngawur. Jauh dari kaidah kejurnalistikan untuk sebuah media berita, terutama media online. 

Terlepas dari komersialisme media, situs portal berita, mulai dari yang sekuler, nasionalis, liberal bahkan portal berita Islam sekalipun pasti punya kepentingan. dan media akan menyiarkan berita sesuai kepentingannya. 

Hendaklah kita belajar dari tauladan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, juga sejarah kaum Muslim dan sejarah bangsa Indonesia. Jangan mau umat ini di kacau balaukan hanya karena berita yang belum pasti kebenarannya. Mari budayakan sikap tabayun terhadap sesama agar kita umat muslim terhindar dari menimpakan musibah kepada yang lain atas perbuatan kita.

Wallahu'alam bissawab



Rujukan :

1. Al-Quran Al-Karim
2. Sirah Nabawiyah
3. (1)Kode Etik Jurnalistik







Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel