Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Rabu, 08 Juli 2015

Kabar terkini Dari Gaza

Satu tahun setelah serangan israel, ribuan warga Gaza masih mengungsi dan merasakan trauma.



Teringat jelas bagaimana perang yang terjadi antara israel dan Hamas di Palestina pada tahun 2014 lalu. lebih dari 6,000 serangan udara, 14,500 peluru tank dan 45,000 peluru dari alteleri di lancarkan ke bebrapa titik kota Gaza oleh pihak israel. (UN)

Sebanyak 2,251 orang di pihak palestina terbunuh dalam peperangan. Kebanyakan dari korban adalah warga sipil termasuk 551 anak.  dan setidaknya 73 orang di pihak israel juga terbunuh, 67 orang diantaranya ialah pihak militer.

Namun di balik jumlah angka korban tersebut yang kini mulai menghilang dan terlupakan, ada beberapa kisah yang masih belum bisa berakhir dan hilang dengan cepat.
Dilansir dari  koresponden Imtiaz Tyab, dari Al Jazeera.

Disebuah daerah Khan Younis, dekat Gaza utara yang berbatasan langsung dengan israel, dirinya bertemu kakek tua berumur 80 tahun, Mohammed al-Masri.

Al- Masri membawanya kesebuah reruntuhan yang dulunya rumah miliknya dan keluarganya. Rumahnya hancur diluluhlantahkan peluru tank israel yang juga membunuh istri serta ketiga anak, sepupu dan satu cucunya.

Satu tahun setelah serangan israel,  Al-Masri menjadi pengasuh satu-satunya ke-empat cucu yang  masih tersisa, semuanya berusia di bawah 10 tahun.

Atas kehilangan orang-orang yang ia kasihi selain ia menyalahkan  israel, ia pun menyalahkan Hamas dan Fatah. karena tidak melakukan perbaikan signifikan sejak peperangan berakhir,

 "Hamas dan Fatah, keduanya hanya sibuk berseteru satu sama lain ketimbang mencoba untuk menolong kami. Meraka hanya memberikan uang kepada para pendukungnya, tapi tidak kepada orang-orang yang membutuhkan. Hanya Tuhan yang dapat menolongku dan cucu-cucu ku," Ujarnya.

Lambannya Perbaikan Fasilitas

Bantuan internasional yang dikucurkan bagi gaza sebesar 5 miliar dolar tidak banyak berpengaruh, kondisi tersebut diakibatkan blokade ekonomi dari israel yang telah terjadi bertahun-tahun. Sulit masuknya bahan-bahan material untuk membangun, salah satunya semen, hal tersebut mempengaruhi lambanya pembangunan kembali fasilitas warga di Gaza.

Dalam kondisi hidup yang serba tidak nyaman, kemarahanpun memuncak.

Ghazi Hammad, Juru bicara senior Hamas, mengatakan tahu betul orang-orang berputus asa.  Dilansir dari Al Jazeera, Ia mengatakan," Saya merasakan warga sangat mederita. Kita harus melakukan segalanya yang kita bisa lakukan untuk menolong mereka, contohnya membuka perbatasan, memberi kesempatan untuk perbaikan fasilitas, dan hal itu adalah misi Hamas dan Fatah; untuk bekerja sama sembari mengesampingkan perbedaan mereka."

Minimnya Perawatan Kesehatan

Dinas sosial mengatakan, "Dampak lanjutan dari perang beberapa tahun terakhir merupakan sebuah bencana besar."

Itulah kenapa sekitar 20,000 warga Palestina saat ini masih hidup dalam pengungsian, juga banyak diantaranya tinggal di tenda yang terbuat dari kargo kontainer.
Setidaknya tujuh belas rumah sakit, 56 fasilitas kesehatan dan 45 mobil ambulan juga sebagian hancur atau hancur seutuhnya saat konflik terjadi.  biaya yang harus ditanggung diperkirakan sebanyak 50 juta dolar.

Namun diantara semua penderitaan yang melanda bangsa palestina, luka dalam yang dirasakan anak-anak Gaza lah yang harus menjadi perhatian penting, akibat peperangan.  sekitar 3/4 anak anak palestina rata-rata mengalami pengalaman buruk,  dan sekitar 90 persen orang tua melaporkan, bahwa anak-anak mereka tetap mengalami ketakutan; dengan sekitar dua pertiganya mengatakan mereka khawatir  akan perang dengan israel. (Charity Save Children)
(Kun)

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel