Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Senin, 06 Juli 2015

Kekuatan Cinta untuk Harmoni Perubahan

Oleh : Siti Patimah / Kader LDM 2009
Dakwah itu cinta

“Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita perjuangkan”. Sekelumit kalimat inilah yang membawa saya pada semangat yang hampir tak pernah padam. Betapa tidak, di dalamnya tersirat sebuah makna yang senantiasa memantik kita untuk terus bergerak. Karena diam hanya akan membuat keadaan diri kian kelam. Maka kewajiban kita adalah bergerak, walau terkadang harus merangkak.



Karena air yang diam dan tak bergerakpun menjadi tempat bersarangnya banyak penyakit. Kurang baik pula bagi kita yang menjalani hidup bagaikan air mengalir, sebab bisa jadi kita belum tahu bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Prolog tersebut merupakan sebuah pengejewantahan dari apa yang telah Allah swt tetapkan dalam firmanNya, “...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Tidakkah kemudian kita “tersengat” dengan ayat Allah di atas? Sebuah janji dari Allah bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan jika di dalam diri kita sendiri tak ada hasrat untuk berubah.

***

Berubah? Tentu. Dalam hal apapun, termasuk status Siswa menjadi Mahasiswa. Seringkali perubahan tersebut menjadi dambaan setiap orang. Tapi yang kemudian muncul adalah apa sebenarnya esensi dari perubahan tersebut?. Bagi saya pribadi menjadi mahasiswa adalah proses menjadi “manusia sesungguhnya”. Di dalamnya kita akan belajar tentang banyak makna dan warna.

Selama bertahun-tahun kita masih tidak malu untuk menengadahkan kedua tangan pada orang tua. Walaupun pada sebagiannya kita masih menjadi tanggungjawab orang tua kita. Namun yang lebih krusial dan fenomena yang tak sedikit terjadi adalah banyak mahasiswa baru maupun mahasiswa lama yang menjadikan kuliah sebagai alasan untuk mereka mendapatkan “beasiswa” lebih banyak dari orang tua. 

Tapi prestasi dan akhlaknya tak selengkap dan berkualitas seperti fasilitas yang mereka dapatkan. Sedangkan mereka sadar dengan bagaimana kondisi orang tua.
Maka benar saja ungkapan yang menyatakan,”tua itu pasti, tapi tua tak menjamin seseorang menjadi dewasa”.

Asas-asas perubahan diri dari mulai dengan mencipta mindset untuk lebih dewasa, mandiri, berkembang, produktif dan lebih baik harus dipersiapkan saat ini juga. Tak ada waktu untuk menunda, karena kita tidak pernah tahu sedetik ke depan apakah kita masih bernyawa atau tidak?

“Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah kenyataan, esok adalah misteri. Impian kita saat ini adalah kenyataan hari esok”

***

Asas perubahan diri tidak serta merta terjadi begitu saja dan secara personal. Karena pada hakikatnya kita adalah makhluk sosial yang sampai kapanpun tak pernah dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Maka carilah orang-orang baik agar kita terbawa menjadi baik, “jika kita berteman dengan seorang tukang pandai besi maka kita akan kecipratan percik apinya. Namun jika kita berteman dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular aroma wanginya”.

LDM menjadi salah satu jalan bagi saya menemukan secercah cahaya ditengah himpitan lorong kegelapan. Di dalamnya saya belajar tentang hubungan vertikal dan horizontal; secara vertikal kaitannya bagaimana seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan berhubungan dengan Sang Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan. Secara horizontal di tandai dengan bagaimana seharusnya kita berhubungan dengan sesama yang diciptakan; manusia.

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru (berbuat) yang makruf dan mencegah yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Imran: 104).
Kalam Allah swt tersebutlah yang mengusik saya, bahwa ternyata menyeru kebaikan dan mencegah keburukan adalah kewajiban kita semua tanpa terkecuali. Pun ternyata hanya orang-orang yang beruntunglah yang akan tersadarkan untuk melakukan itu.

Maka, mari bangun sebuah kekokohan jiwa dan tekad untuk sebuah perubahan; diri kita, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Karena peradaban akan selalu menunggu orang-orang yang tak pernah mengenal kata lelah! Bisa kita bayangkan jika sekitar 1400 abad yang lalu Rasulullah saw merasa lelah dengan cacian, lemparan kotoran dan batu yang menimpa dirinya dan kaum muslimin saat itu. Maka, hari ini kita tak bisa merasakan indahnya Dien kita; Islam Rahmatanlil’alamiin.

Zaman ini memerlukan orang-orang yang kokoh imannya, kuat cara berpikirnya, luas wawasannya, teguh pendiriannya, lapang dadanya dan lembut akhlaknya. Untuk apa? Untuk meneruskan risalah Rasulullah saw. Agar agama ini tidak kemudian dikoyakkan, digoyahkan oleh mereka musuh-musuh islam.

Saya juga menemukan sebuah harmoni keberagaman yang melahirkan kekuatan cinta; cinta pada kebaikan dalam persaudaraan. Ukhuwah namanya, keberagaman karakter antar kita lah yang menjadikan hidup lebih berwarna seperti pelangi. Karena pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna.

So, semangat memperbaiki diri dan menyebarkannya kepada yang lain!
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel