Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Stasiun Mimpi

Oleh : Sayyid Mustofa Herlan (Inki)

Putih... tempat ini begitu bersih dan bercahaya. Dimana? Bagaimana aku bisa ada di sini? Dan, siapakah aku? Siapakah yang bersuara? Siapakah yang hidup? Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Aku hanya tahu Dia. Dia bukanlah dimana. Dia juga bukan siapa maupun mengapa. Bukan juga apa dan bukan bagaimana. Dia adalah... segala.
***

“Aku ini... siapa?” pertanyaan itu meluncur dari pikirannya bagai bola salju yang jatuh dari puncak gunung es. Makin kencang, makin membesar. Zahy menarik kakinya jatuh, meluruskannya hingga berbaring terlentang menatap langit-langit masjid yang memang bergambar langit.
“Apa maksudmu? Kamu kan Zahy.” Jawab temannya yang semula sibuk membaca al-Huda di sebelahnya.
“Seandainya aku tidak terlahir dengan nama Zahy, akankah aku tetap menjadi diriku yang sekarang?” tanya Zahy mengelit. Temannya itu diam sejenak, sebelum kemudian menutup al-Huda di tangannya lalu menatap Zahy.
“Kurasa iya.” Jawab temannya singkat, menyisakan banyak pertanyaan di kepalanya.
“Itu artinya, ‘aku’ lebih dari sekedar nama.” Kini Zahy balas menatap temannya. Dia mengangkat kepala dan menyandarkannya pada lengan kanan yang bertumpu pada karpet dengan sikunya. “Tapi siapa?” tanya Zahy kemudian. Temannya hanya diam mematung, ikut berpikir. Tak pernah dia berpikir tentang dirinya sendiri sejauh itu.
“Jika aku mulai dari jenis, aku adalah manusia. Tapi meski begitu, aku tidak sama dengan manusia yang lain. Apa yang membuatku berbeda? Apa yang membuat kita punya keidentikan masing-masing?” runtutnya kemudian. Pertanyaan-pertanyaan itu dirasa lebih dia lontarkan pada dirinya sendiri. Temannya mengerti akan hal itu. “Siapa aku?” tanya Zahy pada akhirnya. Temannya hanya mengangkat bahu tanda tak tahu, lalu kembali melanjutkan bacaan al-Huda nya.

***

Putih... bersih, terang. Zahy merasa akrab dengan suasana yang dirasakannya saat itu, namun tak sedikitpun memori di kepalanya mengatakan bahwa dia pernah berada di tempat itu sebelumnya. Tempat yang tampak aneh. Tak ada apapun disana, kosong dan sunyi.
Kloneng... kloneng... kloneng. Kini terdengar suara lonceng berbunyi. Zahy tak tahu dari mana arahnya, bunyi itu terdengar dari segala penjuru.
Puffh... tiba-tiba asap mengepul dari ruang kosong di hadapannya. Uhuk-uhuk. Suara batuk terdengar dari balik asap itu, tampak bayangan siluet seseorang yang tingginya tak lebih dari pinggang Zahy sendiri. Siapa?
Uhuk... aku sungguh tidak suka jalan masuk itu.” Kini bayangan itu berbicara. Asap itupun perlahan menghilang dan Zahy dapat melihat sosok itu.
“Oh, kau sudah datang ternyata.” Seorang anak kecil dengan pakaian serba putih. Rambutnya hitam legam. Seolah terhipnotis, Zahy terpaku menatap anak kecil itu.
“Selamat datang di Stasiun Mimpi.” Bagai terbangun dari mimpi, Zahy terkesiap mendengarnya. Suara itu terdengar sangat dalam dan menghujam setiap sel tubuhnya. Kesadarannya seolah kembali. Semua yang di lihatnya kini tampak sangat menakjubkan, nyaris memabukkan.
“Tempat macam apa ini?” tanya Zahy terpesona. Anak kecil itu kini melompat-lompat di atas sesuatu yang tak nampak seolah ada tangga di sana. Kini dia duduk lebih tinggi dari tinggi badan Zahy, melayang. Kloneng... kloneng... lonceng kuning yang menggantung di pinggangnya berbunyi seiring gerakan tubuhnya.
“Sudah kubilang. Ini adalah stasiun mimpi. Disini kau bisa memilih untuk menjadi orang seperti apa di dunia. Disini, kau bisa memilih jawabanmu sendiri tentang siapa dirimu sebenarnya. Di tempat ini, kau bisa memilih mimpi seperti apa yang akan kau kejar nanti. Aku adalah juru mimpimu. Akulah yang akan menuntunmu selama berada di sini.” Jelas anak itu sambil tersenyum. Zahy kembali memperhatikan sekelilingnya. Tak ada siapapun kecuali mereka. Hanya ruangan putih yang kosong.
“Memilih? Aku bisa memilih menjadi orang seperti apa?” tanya Zahy cepat. Anak kecil itu mengangguk mantap. Zahy berpikir sejenak. Terbayang dalam benaknya sosok dirinya sendiri yang kaya raya, tampan, dan terkenal.
“Bagaimana caranya?” tanya Zahy sambil tersenyum.
“Kau hanya tinggal memilih, lalu kami akan memfasilitasi.” Jawab anak itu singkat.
“Memfasilitasi? Apa maksudmu?” tanya Zahy tak mengerti.
“Ya. Jangan berpikir bahwa kami akan mewujudkan keinginanmu secara cuma-Cuma.” Zahy mengerutkan dahi mendengarnya. “Kau juga tidak bisa menjadi apapun semaumu. Kau dibatasi keterbatasanmu sebagai manusia. Dengan kata lain, di tempat ini kau hanya memilih menjadi orang seperti apa, lalu kami akan memfasilitasimu, dan kau sendirilah yang harus berjuang mewujudkannya.” Jelas anak kecil itu.
“Jika aku masih harus berusaha, apa ajaibnya tempat ini?” protes Zahy padanya. Anak kecil itu menggeleng keras.
“Memang beginilah hidup. Kau harus selalu mengusahakan apa yang kau inginkan.” Zahy mencoba mencerna jawaban itu.
“Tapi kau harus bersyukur, tidak semua orang bisa kembali ke tempat ini.” Katanya kemudian.
“Kembali?” tanya Zahy meminta konfirmasi. Anak kecil itu mengangguk sekali lagi.
“Manusia adalah makhluk yang lupa. Jauh sebelum Dia meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad kalian, manusia sebenarnya telah melakukan sumpah setia pada-Nya, kalian telah bersedia untuk megemban amanat besar untuk menjadi pemelihara dunia ini. Tapi kalian lupa, dan kebanyakan justru malah melakukan kerusakan.” Zahy terpaku mendengarnya.
“Kau salah satu manusia yang di ingatkan. Kau telah bertanya pada dirimu sendiri tentang siapa dirimu sebenarnya, itu adalah gerbang utama untuk sampai ke tempat ini. Dan disini, kau akan mendapatkan jawabannya, bahkan kau bisa memilih sendiri jawabannya.” Sambung anak kecil itu. Seolah berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang kecil, suara anak kecil itu terdengar dalam dan berwibawa. Zahy menelan ludah mendengarnya.
“Baiklah. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Zahy kemudian.
Anak itu tersenyum sebelum mengibaskan tangannya ke udara. Beberapa detik kemudian sebuah gambar muncul dari udara yang semula kosong. Seperti layar LCD, di satu sisi gambar itu menampilkan foto Zahy sendiri dan identitas pribadinya, di sisi yang lain tampak beberapa icon yang menampilkan berbagai macam jenis pekerjaan.
“Ini adalah identitas jasad mu di dunia.” Anak itu menunjuk sisi yang terdapat foto dirinya. “Sedangkan sisi ini menunjukkan beberapa kelebihan dan kekurangan yang kau miliki.” Kini anak itu menunjuk sisi yang satunya. Zahy hanya diam mendengarkan.
“Abaikan saja kekurangannya. Kita fokus pada potensi. Tuhan telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang lain, termasuk dibandingkan dengan diriku. Kau tahu kenapa?” kini anak itu bertanya padanya. Zahy hanya diam terpaku.
“Karena kalian adalah khalifah. Dia memberikan kelebihan sekaligus kekurangan dalam satu tubuh kalian. Itu kusebut potensi, dan potensi inilah yang menjadikan kalian berbeda dengan sesama manusia yang lain, menjadikan kalian unik.” Zahy mengangguk-angguk mengerti.
“Dia memberikan sebuah kelebihan yang berdampingan dengan kekurangan agar kalian sempurna. Dia juga tidak hanya memberikan satu potensi untuk satu manusia, dia memberikan banyak. Tinggal kalian yang memilih. Dan disinilah kau bisa memilihnya.” Anak kecil itu berhenti bicara, menunggu respon Zahy akan apa yang di ceritakannya.
“Aku mengerti. Itulah yang selalu menjadi pertanyaanku. Jadi, bagaimana aku bisa memilihnya?” tanya Zahy. Anak kecil itu menggeser layar yang berisi daftar potensinya dan mendekatkannya pada Zahy.
“Ini daftar potensimu. Kau bisa memilih potensi mana yang mau kau kembangkan untuk menjadi identitas dan karaktermu di dunia.” Zahy memperhatikan layar itu. Daftar potensi yang dikatakan anak kecil itu berisi icon-icon dengan gambar berbagai perkerjaan. Ada gambar seseorang yang berdiri di atas mimbar, ada gambar seseorang yang tengah memegang sebuah buku, dan lain sebagainya. Di bawah gambar-gambar itu tertera tulisan yang menggambarkan pekerjaan-pekerjaan itu.
“Apa aku hanya bisa memilih satu?” tanya Zahy. Anak kecil itu tampak berpikir sejenak lalu mengangguk.
“Sekarang kau hanya bisa memilih satu. Tapi jika dalam perkembangannya kau berhasil memaksimalkan potensi yang kau pilih, maka kau bisa meraih potensi-potensi yang lainnya.” Anak itu berhenti sejenak. “Lagipula tidak semua icon yang ada disini bisa kau pilih.” Lanjutnya.
“Apa maksudmu?” tanya Zahy seraya mendongakkan kepalanya menatap anak kecil itu.
“Ya, seperti yang kubilang tadi, Dia memberimu beberapa potensi, tidak semuanya, tidak juga satu. Icon-icon yang menyala terang berisi potensi yang kau miliki. Kau hanya bisa memilih satu diantara mereka. Sedangkan icon yang mati bukanlah potensi yang kau miliki. Kombinasi dari potensi-potensi inilah yang membuatmu unik.” Zahy kembali mengangguk-angguk. Dia memperhatikan icon-icon itu sekali lagi, hanya ada lima icon yang menyala : menggambar, melukis, berbicara, menulis, dan icon bermusik. Zahy berpikir sejenak. Dalam benaknya, kelima potensi itu memang aktifitas yang menurutnya menyenangkan. Sedangkan icon-icon yang mati memang aktifitas-aktifitas yang sangat membosankan.
“Kau hanya bisa memilih satu, tapi dalam pengembangannya kau bisa mengkombinasikannya. Misalnya saat ini kau memilih potensi melukis, maka ketika kau memaksimalkan potensimu dan menjadi pelukis, kau bisa mengkombinasikannya dengan kemampuan berbicara, maka kau akan mendapatkan satu profesi lain seperti menjadi guru melukis. Tapi tetap hanya satu potensi yang bisa menjadi potensinya. Yang lain hanya sebagai pelengkap.” Jelas anak itu panjang lebar.
Zahy berpikir sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk memilih salah satunya.
“Aku sudah punya keputusan.” Katanya mantap. Anak kecil itu memberi isyarat untuk menekan salah satu icon yang dia pilih. Zahy pun menekannya perlahan. Icon itu kini tampak berkedip-kedip terang sebelum kemudian menghilang. Anak kecil itu mengangguk-angguk dan menghela napas lega.
“Baiklah, karena kau telah memilih maka setelah ini kau akan di kembalikan kedunia, dan kami akan memfasilitasi pilihanmu. Tapi ingatlah, ada konsekuensi yang harus kau jalani. Mau tidak mau kau akan memperjuangkan potensi yang telah kau pilih itu untuk menolong agama-Nya di dunia. Hanya kepada-Nya yang esa. Ini tidak akan mudah, maka sekali kau telah maju kau tidak bisa mundur. Jika kau mundur, kau akan jatuh ke jurang yang tak berdasar.” Anak kecil itu bangkit berdiri. Sekali lagi, suara anak kecil itu seperti terdengar dari dunia lain. Sangat dalam dan merasuk ke setiap sel tubuhnya. Zahy tak mampu berkata-kata menganggapi.
“Selamat tinggal. Terima kasih telah singgah di Stasiun Mimpi.” Suara itu mendorongnya jauh, melayang. Anak kecil itu tak terlihat lagi. Dan kini semua yang semula terlihat putih seolah menelannya jauh. Mulai tampak kegelapan sedikit demi sedikit menyelimutinya. Semula kelabu, lalu jadi benar-benar pekat. Zahy tak tahu dia masih bernapas atau tidak. Dia bahkan tak bisa merasakan dirinya ada. Tubuhnya seolah terlepas, Zahy melayang-layang tanpa jasad. Dia hanya tahu bahwa dia sadar, entah dimana, entah seperti apa. Dia masih tersedot ke dalam sesuatu yang tak tergambarkan. Hingga dirinya terasa berhenti dan tak lagi bergerak. Dia merasa mampu melihat segalanya, namun di sana memang tak ada apa-apa. Tidak putih, tidak kelabu, tidak juga gelap. Tak ada warna, benar-benar kosong. Hingga sebuah suara tiba-tiba terdengar, “Alastu bi rabbikum. Qaaluu balaa syahidnaa.”

***

“Zahy, bangun!” lelaki itu tersentak kaget terbangun dari tidurnya. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Sesaat dia tak sadar dimana dia berada, dia bahkan tak tahu siapa dirinya, hingga seorang teman yang membangunkan memanggil namanya.
“Zahy? Udah bangun belum?” tanya temannya sabil melambai-lambaikan tangannya di depan muka Zahy. Perlahan kesadarannya mulai kembali. Zahy, dia ingat nama itu. Dia juga ingat tentang semua mimpi yang di alaminya. Kini kesadarannya benar-benar pulih. Diapun bangkit duduk dan menatap temannya.
“Namaku Zahy?” tanyanya kemudian, di balas dengan tatapan aneh dari temannya.
“Tentu saja. Kamu ini kenapa, sih?” Lelaki yang di panggil Zahy itu berpikir sejenak. Kini dia benar-benar mengerti tentang siapa dirinya dan apa misi yang di embannya. Dia bukanlah Zahy, nama dan tubuh itu hanyalah wadahnya di dunia ini. Dia telah memilih untuk menjadi apa, dia adalah... seorang penulis.
“Kini aku membutuhkan nama lain,” Batinnya.

Selesai di tulis pukul 11.21 tanggal 2-7-2015

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel