Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Senin, 21 September 2015

Bismillah, Islam is My Style

Oleh : Sayyid a.k.a Inki

Remang. Sebuah ornamen berbentuk salib tampak berkilauan memantulkan cahaya temaram dari lampu tidur yang menyala redup di sebelah meja riasnya. Ada sesuatu yang membekukannya malam itu. Dia masih menatap bayangannya yang kaku.

Cermin di hadapannya telah lebih dulu mengambil peran sebagai penabuh genderang perang yang kini berkecamuk dalam dadanya, dia. Gadis bermata sipit berambut hitam sebahu itu memperhatikan dengan seksama setiap lekuk wajahnya yang kuning langsat.

Dia tersenyum.Gadis itu menunduk membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sesuatu –kain lebar segi empat. Dia melipatnya sedemikian rupa lalu menutupkannya di atas kepala. Beberapa saat kemudian, cermin dihadapannya memantulkan bayangan yang berbeda. Bayangan gadis bermata sipit. Gadis bermata sipit yang berjilbab.

***

Ai tersentak dan terkesiap di kursi kabin pesawat Lion Air saat terdengar peringatan tanda pesawat akan segera mendarat. Memandang keluar jendela, suasana terlihat cerah. Matahari mungkin belum lama terbit saat Ai tersadar dari lamunannya. Dia menegakkan tubuh lalu mengambil sebuah foto yang terbuka diatas pangkuannya.

Gadis itu tengah memandangi dan memperhatikan hasil foto yang diambilnya dari perjalanan di Bandung beberapa waktu lalu sebelum kemudian larut dalam lamunan. Kota ini bukan kota impian, sebenarnya.Kota ini juga tak menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya. Tapi foto ditangannya itu punya kekuatan tersendiri, kekuatan yang mampu menariknya untuk kembali ke kota kembang dan bertolak dari tanah Kalimantan tempatnya memulai karir sebagai fotografer.

Ketika pesawat benar-benar telah mendarat, Ai mengemasi barang-barangnya lalu bangkit dan melangkah mendekati tangga keluar. Udara pagi menyambutnya. Mata sipit itu setengah terpicing saat pertama melihat sinar matahari langsung. Rambut hitamnya yang sebahu bergerak pelan terbawa angin. Ai sangat menikmati ini. Dia memejamkan matanya sejenak sambil menggenggam kalung salib di lehernya.

“Antar aku ke Cibiru.” katanya sesaat setelah duduk di dalam salah satu taxi yang berjajar rapi di pintu keluar bandara.

Ai adalah seorang tionghoa asli.Ayahnya seorang Kristen dan Ibunya beragama Konghucu.Karena itu saat kecil kehidupan beragamanya cukup beragam. Ai sangat senang ketika Ibu membelikannya setelan baju berwarna merah dan membagikan angpao setiap hari raya Imlek datang. Dia juga sangat menyukai pohon cemara yang berkilau dan cerita-cerita tentang Sinterklas yang membagikan hadiah disetiap malam Natal. Namun kini, ketika dia beranjak dewasa, keyakinan akan keduanya kian memudar.

Sebagai seorang fotografer, adalah hal yang biasa baginya berkeliling nusantara hanya untuk mengabadikan momen-momen unik disetiap tempatnya. Namun perjalanannya di kota Bandung beberapa waktu lalu terasa berbeda. Berbeda hanya karena sebuah foto seorang gadis muslim yang tersenyum ketika memilih pakaian gamis yang terjajar rapi di hadapannya. Foto itu diambilnya tanpa sengaja sebenarnya.

 Dalam seni fotografi, ada satu teknik yang biasa disebut Blind Photo, dimana sang fotografer mengambil foto tanpa terlebih dahulu melihat objek yang difotonya. Ai melakukan itu ketika berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Cibiru dan tanpa sengaja mengambil foto itu.

Satu hal yang membuat dirinya gelisah, gadis di dalam foto itu tampak sangat bahagia dengan style busana yang dipilihnya. Senyuman itu, Ai tak pernah melihat yang begitu tulus selain dari bibir gadis itu. Tidak juga dengan dirinya sendiri. Banyak pakaian bagus dan juga mahal yang dimilikinya bahkan sejak dia masih kecil, tapi tak pernah dia merasa sebangga dan sebahagia gadis dalam foto itu.

Ai mulai bertanya sendiri, daya macam apa yang mampu memunculkan ketulusan sehebat itu? Berhari-hari memikirkannya, dia pernah punya satu anggapan,mungkinkah itu karena kepercayaan yang dianutnya? Apakah ada sangkut pautnya dengan Islam? Ai mencoba membandingkannya dengan gadis lain yang punya style yang sama dengannya tapi beragama Islam, hasilnya tetap saja berbeda.

Ai tak melihat senyum itu selain pada gadis dalam foto. Munginkah ini lebih dari sebuah keyakinan? Ai tak mampu menjawab itu. Batinnya tak pernah berhenti bertanya. Inilah yang membuatnya rela kembali ke Bandung. Ke tempat dimana dia bertemu dengan sang gadis lewat lensanya. Senyuman itu, dia ingin merasakannya, Ai ingin memilikinya.

“Udah sampe, teh.” Seketika suara supir taxi membangunkannya dari lamunan. Ai hanya mengangguk, memberikan bayaran lalu keluar tanpa ragu. Memandang sekeliling, senyum tipis tergambar di wajahnya.Walau kecil kemungkinan bisa bertemu langsung dengan sang gadis, dia tak pernah khawatir. Ai punya caranya sendiri untuk mendapatkan keajaiban. Dia mengeluarkan sebuah kamera dari tasnya.

***

07.25. Laila sedang bersiap untuk pergi. Dia punya janji dengan teman-temannya di Lembaga Dakwah Mahasiswa tepat pukul 09.00 nanti. Tapi pagi itu dia punya rencana lain,tiba-tiba saja muncul keinginannya untuk sejenak mampir ke toko busana muslim rabbani langganannya. Walau tak ada yang sedang ingin dia beli sebenarnya, tapi dia takpeduli. Dia hanya melakukan apa yang di inginkannya. Setidaknya dengan berkunjung, dia telah menyambung tali silaturahim.

Beberapa menit terlewati, Laila masih berkutat di depan cermin. Merapikan jilbab panjang yang menutupi setengah tubuhnya. Dia tak pernah bosan dengan gaya busana yang dikenakannya, lebih dari itu dia merasa bangga. Muslimah adalah salah satu icon dalam Islam, dan tanda keislaman seorang muslimah adalah menutup aurat dengan sempurna.

Dia tak pernah menyesali itu. “Islam is my style. Islam is my life.” Tulisnya di sebuah kertas yang ditempelkannya di cermin beberapa waktu lalu.
“Bismillah...” gumamnya sambil tersenyum tanda dia siap pergi. Laila memperhatikan bayangannya di cermin sekali lagi. Jilbab biru tua dan gamis biru muda serta mangset dikedua tangannya, dia tampak sempurna seperti biasanya. Dengan percaya diri, Laila melangkah keluar rumahnya.

Ketika sampai ditempat tujuan, Laila di suguhi sebuah pemandangan yang unik. Dia melihat seorang gadis bermata sipit yang sedang memotret dengan cara yang tak biasa. Gadis itu mengarahkan kameranya ke satu arah, tapi matanya memandang kearah yang lain.Dia memotret tanpa melihat objeknya. Laila tersenyum sesaat lalu melanjutkan langkahnya ke toko busana muslim yang tak jauh dari sana.

Matanya berbinar saat melihat banyak gamis, jilbab, kerudung, dan busana muslimah lain yang berjajar di sana. Tapi Laila hanya ingin melihat-lihat, belum saatnya untuk membeli pakaian baru, pikirnya.

“Permisi..” sebuah suara yang terdengar lembut mengalihkan perhatiannya dari busana muslimah di hadapannya. Laila berbalik menatap ke arah suara itu terdengar. Diater kejut seketika. Suara itu datang dari gadis yang dilihatnya sedang memotret tadi. Gadis cantik bermata sipit dan berambut hitam sebahu. Laila tersenyum.Dari bahasa tubuhnya, tak terlihat sedikitpun gadis itu ingin membeli pakai andi toko itu. Matanya lurus menatap Laila dan tersenyum sambil menjulurkan tangan. Laila menyambut tangan itu.

“Maaf mengganggu. Aku ingin bicara denganmu sebentar saja, bisakah?” gadis itu tersenyum manis. Pada awalnya Laila tak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi kemudian dia mengangguk dan menyetujuinya. Toh dia tidak sedang terburu-buru,dia masih punya banyak waktu. Lagipula, mungkin saja gadis itu butuh bantuannya.

“Tentu, dengan senang hati.” Jawabnya sambil tersenyum. Merekapun duduk di kursi yang disediakan di depan toko itu.
“Langsung saja. Perkenalkan, namaku Ai. Aku bukan seorang muslimah sebenarnya, aku umat Kristiani.” Laila sedikit tertegun mendengarnya. Ada perlu apa seorang kristen mendatanginya?
“Perkenalkan juga, aku Laila. Ada yang bisa ku bantu?” jawabnya sambil menyunggingkan senyum terbaiknya. Ai pun kemudian menceritakan semua pengalamannya tentang foto yang diambilnya tanpa sengaja di tempat itu beberapa waktu lalu.

Termasuk kegelisahannya tentang kebanggaan dan ketulusan yang tersirat dari gadis berjilbab di hadapannya. Ai membiarkan Laila melihat foto itu. Laila kembali tersenyum, tapi kali ini lebih lebar. Dia menatap lekat foto dirinya sendiri di tempat yang sama. Laila masih mengingat momen itu.
“Jadi, aku sengaja jauh-jauh dari Kalimantan dan kembali ke tempat ini untuk tahu jawabannya. Apa yang membuatmu bangga dan sangat bahagia dengan style muslimahmu itu? Jujur saja, aku ingin merasakannya.” Ai bertanya setelah menyelesaikan ceritanya.

Laila menarik nafas sejenak. Ini adalah momen yang tak akan bisa dia lupakan. Kebanggaannya akan Islam selama ini memang bukan hal kosong belaka. Laila mengucap syukur dalam hatinya, Alhamdulillah.

“Sederhana sebenarnya. Ini hanya soal ‘cinta’. Aku cinta Islam, dan aku cinta seluruh ajarannya. Karena cinta aku jadi percaya diri, karena cinta aku punya kebanggaan,  dan karena cinta juga aku jadi bahagia. Islam is my style. Hanya itu.” senyum di wajahnya tak pernah lepas. Ai tertegun mendengarnya.

Dia diam sejenak dan tampak merenung. Cinta pada agama. Itulah yang tak dimilikinya selama ini. Dia seorang kristen hanya karena mengikuti keyakinan ayahnya. Rasa cinta itu, dia tak punya. Merekapun kemudian menggulung pembicaraan yang panjang sampai Laila pamit mengingat janji dengan teman-temannya. Cinta. Ai masih merenungkan itu.

***

Di dalam kamarnya yang temaram, gadis itu berdiri mematung di depan cermin besar dilemarinya. Sekilas tampak bayangan salib di atas meja yang berkilauan memantulkan cahaya lampu redup tergambar di cermin itu. Dia membuka lemarinya dan mengambil sebuah gamis lalu memakainya. Diapun mengambil sebuah kerudung panjang dan memakaikannya di kepala. Sejenak kemudian, cermin dihadapannya memunculkan bayangan yang berbeda. Bayangan gadis cantik bermata sipit berbusana muslim. “Bismillah, Islam is mystyle.” Katanya dengan terbata.

Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel