Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Kamis, 24 September 2015

Menelusuri Jejak Qurban

By : M Rizal Rahman  (Ilmu Kom. Humas 2013 UIN Bandung)



Idul Qurban adalah sebuah bahasa cinta yang dapat dimengerti setiap insan, bentuk cinta antara aku dan tuhanku antara aku dan masyarakat disekitarku. Kami dipertautkan antara hati kehati dalam rangkaian ibadah. Itulah pemaknaan yang dapatku rasakan.


Ketika masyarakat ditalikan dengan bahasa cinta dalam kebersamaan, pengabdian, ketulusan dan keindahan. Suasana apalagi, aktivitas yang manalagi yang begitu hangat? coba bayangkan?Jadi ingat kisah keren dari Duta Allah pada zamannya, ia adalah Nabi Ibrahim As. Kisah ini dimulai ketika beliau telah lulus ujian atau cobaan dari Allah.

 Hal ini didokumentasikan dalam Al-Qur’an : Dan ketika Ibrahim diberi cobaan (bala’) oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (berbagai cobaan) , lalu Ibrahim lulus dalam cobaan itu. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan kamu hai Ibrahim Imam semua manusia . (QS. Al-Baqarah : 124)

Lulusnya Nabi Ibrahim tidak hanya dalam melaksanakan perintah Allah, tetapi juga dalam kebijaksanaannya menyampaikan perintah itu kepada anaknya yang sangat dicintainya. Beliau tidak langsung mengambil anaknya Ismail tiba-tiba dan tidak pula mencari kelengahan dengan perlahan-lahan menyembelihnya kan?, atau dengan taktik menculik, Meskipun Ibrahim memiliki massa yang banyak, tetapi beliau tidak menggunakan massa agar anaknya bertekuk lutut di hadapannya.

Perintah Allah disampaikannya dengan transparan penuh keindahan dan kecintaan Ilahiah yang penuh rahmat. Sedangkan Ismail, anak yang patuh dan mengerti kedudukan orang tuanya dan posisinya sebagai anak, ia tidak membangkang dan tidak bimbang.

Ismail memberikan jawaban yang memancarkan keimanan, rendah hati (bahasa kerennya tawadhu), dan menyerahkan segala urusanya (bahasa kerennya tawakkal kepada Allah), bukan untuk menonjolkan kepahlawanan atau kegagahan, mencari popularitas. Ia tidak melakukan unjuk rasa yang konfrontatif tanpa mengindahkan akhlakul karimah atau dengan kekerasan untuk memprotes kehendak bapaknya.

Begitu keren dan penuh rahmah dua tokoh bapak dan anak ini yangmerupakan teladan bagi umat manusia. Bahkan syariat Nabi Muhammad SAW merupakan syariat yang dulunya telah diwahyukan Allah kepada Ibrahim (Asy-Syura : 13). Maka kita menyembelih hewan qurban (udhiyah) di hari ‘Idul Adha ini termasuk meneladani sunnah Ibrahim, sebagaimana sabda Nabi SAW : “Sunnatu abikum Ibrahim.” (Sunnah bapakmu Ibrahim) (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Ibrahim adalah bentuk cinta seorang insan dengan insan lainnya yaitu salah satunya adalah bahasa lisan, begitu santun teladan kita, ia melaksanakan kewajibannya tanpa perkataan dan perilaku kasar atau keras.

Kewajiban nabi Ibrahim itu adalah menyembelih anaknya Ismail, namun ia menggunakan bahasa yang santun kepada anaknya sebelum melaksanakan kewajiban tuhannya, dengan bermusyawarah terlebih dahulu, tidak langsung main sembelih. Begitu pula dalam menyampaikan kebaikan bukan sahabat?

Selamat melaksanakan idhul qurban ya sahabat salam hormat untuk keluarga disana smile emotikon
Semoga kita senantiasa mendapat naungan cintanNya.
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel