Lembaga Dakwah Kampus LDM , ialah lembaga dakwah mahasiswa yang ada di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tergabung dalam Forum Lembaga dakwah kamus (FSLDK) Nasional, Fokus dalam pembinaan islam, dan juga gerakan sosial, web ini menyediakan informasi, artikel , agenda terdekat, seputar kampus, beasiswa, Lagu nasyid, software, Pendaftaran LDK LDM, Buletin Rabbani, ebook gratis, dan masih banyak lagi.

Selasa, 15 September 2015

Salah Kaprah Dalam Mengkafirkan

Oleh : Aswin Ahdir Bolano (Ketum LDM 2012)



Bismillahirrahmanirrahim……….
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan islam, serta menjadikan kita di antara orang-orang yang berusaha untuk komitmen dalam perbaikan diri dan umat melalui jalan dakwah kepada-Nya. Shalawat dan salam untuk junjungan kita, Rasulullah SAW, semoga beliau berkenan memberikan syafaat kepada kita sekalian pada hari yang pada saat itu tidak berguna lagi segala sesuatu, selain kebaikan.




Tulisan ini merupakan tulisan yang bermula dari kekhawatiran ana mengenai fenomena saling menuduh sesat dan saling mengkafikan yang terjadi di kalangan umat islam saat ini. Ironisnya lagi, hal ini terjadi di kalangan yang secara lantang memproklamirkan diri sebagai seorang aktivis dakwah, meskipun ketika ana berinteraksi dengan mereka, ana tidak menemukan satu pun ciri yang menunjukkan secara ril bahwa mereka adalah aktivis dakwah.

Mungkin antum/antunna bertanya, mengapa ana tidak menganggap mereka sebagai aktivis dakwah….??? Alasan ana yaitu menurut temuan ana, ternyata mereka mengkafirkan ataupun menuduh sesat seseorang ataupun suatu oraganisasi bukan berdasarkan telaah dan analisis dengan kapasitas keilmuan yang memadai, namun hanya berdasarkan arahan yang mereka dapatkan dari petinggi-petinggi mereka dalam organisasi tersebut.

Hal lain yang sangat miris lagi ialah ternyata kalangan-kalangan yang hobi mengkafirkan ini juga bergerak dan berorganisasi untuk merekrut sebanyak-banyaknya orang, khususnya kalangan pemuda, mahasiswa dan akademisi (baca: dosen) untuk menjadi anggota dari organisasi mereka tersebut.

Sangatlah mudah menemukan jawabannya, jika ditanyakan mengapa banyak orang yang akhirnya ikut dalam organisasi tersebut. Sebab, yang sangat mereka incar adalah orang-orang tertentu yang memiliki semangat untuk mempelajari islam, namun memiliki ilmu dasar keislaman yang sangat kurang. Orang-orang dengan tipe seperti inilah yang menjadi sasaran empuk bagi penanaman pemikiran radikal tak berakar dan tak berdasar tersebut.

Berbeda sedikit dengan organisasi dengan ciri yang ana sebutkan di atas, terdapat pula beberapa organisasi pergerakan yang lain yang tidak kalah brutalnya dalam mengkafirkan dan menuduh sesat orang-orang yang tidak sefaham dengan mereka. Ana juga secara diam-diam telah berinteraksi dengan kalangan-kalangan ini secara intens, hingga sampai pada satu kesimpulan dan temuan, bahwa ternyata mereka mengkafirkan dan menuduh sesat juga bukan berdasarkan keilmuan yang memadai namun hanya berdasarkan taklid kepada petinggi-petinggi mereka.

Hal ini diperparah lagi dengan temuan ana bahwa ternyata mereka juga tidak faham mengenai konsekuensi dalam mengkafirkan dan menuduh sesat seorang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ana menyusun tulisan ini untuk menjelaskan seputar kesalahkaprahan dalam mengkafirkan.

Ikhwahfillah……. Melalui tulisan ini ana berwasiat kepada kaum muslimin kapan di manapun antum berada, jika antum/antunna membaca tulisan ini, ana katakan kepada antum semua bahwa mengkafikan seorang muslim adalah satu di antara dosa-dosa besar.

Harus kita ketahui pula bersama bahwa Al-Qur'an dan sunnah tidak pernah mengajarkan dan menggunakan penyebutan kata-kata kafir/kufur secara tunjuk langsung, kecuali kepada orang-orang yang telah jelas kekafirannya dengan tidak menerima Allah sebagai satu-satunya tuhannya, dan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya panutannya.

Ana juga ingin menyampaikan kepada kaum muslimin, bahwa perlu kita ketahui bersama, bahwa kata "Kafir" adalah kata subjek, sedangkan predikat yang disandangnya adalah "Kufur". Dengan kata lain, kata "kafir" adalah sebutan untuk pelakunya, sedangkang "kufur" adalah katakerja dan penyebab yang menjadikannya disebut kafir.

Jenis-jenis (pembagian) Kufur
Para ulama kita telah membagi jenis kufur ke dalam dua kategori, yaitu:

Pertama, Kufur akbar atau kufur I'tiqadi (keyakinan) yang dapat mengeluarkan seseorang dari agamanya;
Kufur jenis pertama ini terbagai menjadi lima jenis, yaitu:
Pertama, Kufur Takdzib (mendustakan); Yaitu meyakini kedustaan para Rasul, atau menganggap bahwa Allah mengharamkan atau menghalalkan sesuatu, padahal ia mengetahui bahwa hal itu bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Kedua, kufur iba'ah wa al-istikbar (menolak dengan sombong); Yaitu mengakui dan mengetahui dalam hati bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT adalah benar, namun ia menolaknya karena kesombongan yang ada di dalam hatinya, serta menghina kebenaran dan orang-orang yang megikuti kebenaran tersebut.

Ketiga, Kufur I`radh (berpaling); Yaitu berpaling dengan pendengaran dan hatinya dari Allah dan Rasul-Nya. Ia tidak membenarkan, tidak mendustakan, tidak mencintainya, tidak memusuhinya, dan tidak menyimak sedikitpun kepadanya. Dia meninggalkan kebenaran, tidak mempelajarinya, tidak mengamalkannya, dan menjauhi tempat-tempat kebenaran.

Keempat, kufur nifaq (munafik); Yaitu menampakkan secara terang-terangan bahwa ia mengikuti ajaran Rasulullah SAW, tetapi menolak dan mengingkarinya dalam hati. Ia menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran.

Kelima, kufur syak (ragu-ragu); Yaitu tidak memastikan benar dan dustanya Nabi SAW, namun meragukannya dalam hati.

Kelima perbuatan dan jenis kufur inilah yang menjadikan seseorang keluar dari agamanya, hingga Al-Qur'an dan hadits pun menggunakan sebutan kafir secara langsung untuk menunjuk kelima golongan di atas.
Golongan inilah yang dimaksud oleh Allah SWT dalam kitab-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

"Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan berada) dalam neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, dan mereka itulah seburuk-buruk mahluk." (al-Bayyinah 98:6)

Selain dari kelima golongan di atas, maka Al-Qur'an dan hadits tidak menggunakan penyebutan kata-kata kafir. Dengan demikian, sangatlah ironis, jika seseorang masih melaksanakan shalat, dan rukun keislaman yang lainnya, juga tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, namun dianggap kafir dan sesat hanya karena berbeda faham dan golongan.

2) Kufur ashgar (kufur kecil) yang tidak mengeluarkan seseorang dari agamanya;
Kufur pada spesies yang kedua ini ditujukan sebagai ancaman atas sebuah perbuatan dosa besar, kekufuran jenis ini tidaklah mengeluarkan seseorang dari agamanya, serta tidak dibolehkan menyebutkan mereka sebagai orang kafir.

Konsekuensi dari kekufuran seperti ini adalah dengan siksaan sementara di neraka. Contoh perbuatan yang termasuk kufur ashgar yaitu meninggalkan shalat dengan sengaja, membunuh seorang muslim, meninggalkan hal-hal yang wajib, tidak mensyukuri nikmat, dan lain sebagainya.

Ayat-ayat yang sering digunakan dalam mengkafirkan dan menuduh sesat

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

"Dan barangsiapa yang tidak berhukum kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir." (al-Maidah 5:44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

""Dan barangsiapa yang tidak berhukum kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim."(al-Maidah 5:45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

""Dan barangsiapa yang tidak berhukum kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah, Mereka itulah orang-orang yang fasik." (al-Maidah 5:47)

Ayat-ayat di atas adalah ayat-ayat yang sering digunakan oleh sebagian organisasi sebagai alat justifikasi untuk mengkafirkan dan menuduh sesat organisasi selain mereka. Sehingga sangat banyak kalangan yang tidak faham mengenai tafsir ayat di atas terjebak dengan virus-virus pemahaman tafsir yang tidak berdasar tersebut. Dalam ilmu tafsir, pemahaman tafsir seperti ini dikenal dengan sebutan al-Dakhil fi al-Tafsir (penyusupan hal/pemikiran tertentu dalam penafsiran).

Imam Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya memaparkan bahwa kalimat " وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ " atau jika diterjemahkan "barangsiapa yang tidak berhukum/tidak menggunakan hukum." Maknanya adalah barangsiapa yang (dengan tendensi dan tujuan tertentu) menyembunyikan hukum-hukum yang telah Allah turunkan dalam Al-Qur'an, yang semestinya digunakan sebagai hukum di antara hambanya yang beriman. Maka konsekuensinya adalah pada lanjutan ayat tersebut, yaitu mereka termasuk orang-orang yang kafir.

Komentar Ana:

Inilah yang tidak difahami oleh sebagian organisasi dan pergerakan terhadap pergerakan dakwah tarbiyah yang masuk ke berbagai bidang di parlemen dan pemerintahan. Mereka menganggap bahwa dakwah tarbiyah juga berhukum kepada aturan manusia yang mereka anggap sebagai thagut.

Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa misi dakwah parlemen yang diajarkan dalam tarbiyah justru adalah "Ishlahul hukumah" yaitu perbaikan hukum, serta menghindarkan hukum dan aturan nasional dari hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah yang dicetuskan oleh oknum-oknum pemerintahan yang memusuhi islam dan tidak bertanggungjawab. Lebih ironis lagi adalah mereka malah menjadikan ayat diatas sebagai dalil dalam mengkafirkan dan menuduh sesat orang-orang yang masuk dalam dakwah parlemen dan pemerintahan-semoga Allah SWT membuka hati mereka-.

فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ, الظَّالِمُونَ, الْفَاسِقُونَ

Kafir, zhalim, dan fasiq, adalah tiga kata yang kemudian menjadi label dan stigma yang diberikan oleh sebagian organisasi dan pergerakan tertentu  kepada para aktivis dakwah yang masuk ke dalam dakwah parlemen dan pemerintahan. Mereka tidak memahami bahwa label yang mereka berikan kepada para aktivis yang insya Allah ikhlas tersebut suatu saat akan berbalik menimpa mereka sendiri, dalam hal ini ana ingin menyampaikan pesan Rasulullah SAW:

عن ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ. فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ ».

"Dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW,"Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (sesama muslim):"Hai kafir," maka salah satu di antara keduanya pasti mendapatkannya, kalau saudaranya itu seperti yang dikatakannya. Kalau tidak, maka ucapan itu kembali kepada yang mengucapkannya."
Hadits ini Shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan selainnya-semoga Allah merahmati beliau.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالْفُسُوقِ ، وَلاَ يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ.

"Dari Abu Dzar r.anhu, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda,"Tidaklah seseorang menggelari fasik atau kafir kepada orang lain, kecuali akan kembali kepadanya apabila orang yang digelarinya itu tidak demikian."
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan selainnya-semoga Allah merahmati beliau-.

عن البراء بن عازب، عن النبي صلى الله عليه وسلم في قوله:"ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون"،( وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ) [سورة المائدة: 45]،( وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ) [سورة المائدة: 47]، في الكافرين كلها.

"Dari al-Barra' bin `Azib, dari Nabi SAW, ketika menafsirkan surat al-maidah ayat 44, 45, dan 47. Beliau SAW bersabda"Setiap ayat ini ditujukan semuanya kepada orang-orang kafir." (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya)

Dengan pemaparan di atas, jelaslah kepada kita semua mengenai siapa yang kafir dan siapa yang sesat, serta bagaimana aturan dalam mengkafirkan, bagaimana makna dan tafsir ayat-ayat yang mengandung stigmatisasi kafir ataupun fasiq, semoga Allah SWT menjaga kita semua, dari berkata-kata terhadap kitab Allah, tanpa ilmu yang memadai. Wallahu A`lam

Semoga bermanfaat, jika tulisan ini antum/antunna rasa sangat bermanfaat untuk kaum muslimin, silahkan disebarkan, dan sertakan ana dalam doa antum semua, agar diberikan cahaya keilmuan yang bermanfaat untuk kaum muslimin…amien

Bandung, Senin 13 Mei 2013/3 Rajab 1434 H, Pkl.11.11 WIB


Referensi:
Tafsir al-Thabari Imam Muhammad bin Jarir al-Thabari
Shahih al-Bukhari
Shahih Muslim
Al-Wajiz fi Aqidah al-Salaf al-Shalih Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid al-Atsari
Aqidah Ahlu Sunnah wa al-Jama`ah, Mafhumuha, Khasa'ishuha wa Khasa'isu Ahliha Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamad
(Semoga Allah merahmati mereka semua)

Di Ambil dari Aktivis-Dakwah.Blogspot.com
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Agenda

Download

Blog Archive

Seputar Kampus

Artikel